TRENGGALEK, – Gelaran Festival Kemudahan dan Perlindungan Usaha Mikro yang diselenggarakan di Kabupaten Trenggalek. mendapatkan sambutan antusias dari berbagai pihak, termasuk Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin. Acara ini dipandang selaras dengan inisiatif Pemerintah Kabupaten Trenggalek yang secara rutin menghadirkan layanan publik hingga tingkat desa setiap hari Rabu.Senin(5/5)
Bupati Mochamad Nur Arifin, yang akrab disapa Mas Ipin, menyatakan,
“Kegiatan seperti ini merupakan agenda rutin kami setiap Rabu, di mana kami ‘ngantor di desa’. Seluruh layanan yang ada di kabupaten, termasuk mitra strategis seperti perbankan, turut hadir untuk memberikan kemudahan akses bagi masyarakat.”ujar mas ipin sapaan akrabnya
Lebih lanjut, Mas Ipin mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten Trenggalek telah melakukan serangkaian asesmen komprehensif guna mendukung investasi, dengan fokus pada optimalisasi aset-aset daerah. Salah satu langkah konkret yang dicontohkan adalah proses lelang Rumah Potong Hewan (RPH) yang tengah diarahkan untuk menjadi bagian integral dari rantai pasok halal (halal supply chain).
“Kami memiliki visi untuk memfinalisasi RPH ini sebagai salah satu mata rantai dalam jaringan halal supply chain. Ini tidak hanya akan mewadahi para Juru Sembelih Halal (JULEHA), tetapi juga memastikan daging yang dihasilkan dikemas dengan baik dan dapat disalurkan ke pasar tradisional. Inisiatif ini juga sejalan dengan program strategis Presiden terkait dapur Makan Bergizi Gratis,” jelasnya.
Sementara itu, Deputi Usaha Mikro Kementerian Koperasi dan UKM, M. Riza Damanik, menyampaikan apresiasinya atas antusiasme yang ditunjukkan di Trenggalek. Festival ini merupakan kali kedua diselenggarakan setelah sukses di Pontianak, Kalimantan Barat.
“Sebanyak 1.200 pelaku usaha mikro hadir dan mendapatkan beragam layanan penting, mulai dari sertifikasi halal, PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga), asuransi mikro, BPJS Ketenagakerjaan, layanan administrasi umum, akses Kredit Usaha Rakyat (KUR), hingga pendaftaran merek,” urai Riza.
Riza Damanik menekankan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah untuk meningkatkan produktivitas usaha mikro agar menjadi lebih terencana, berkualitas, dan mampu naik kelas. Ia mengidentifikasi dua tantangan utama yang dihadapi pelaku usaha mikro, yaitu tingkat literasi yang masih rendah dan keterbatasan akses terhadap pembiayaan.
“Banyak pelaku usaha mikro yang belum memiliki informasi yang memadai mengenai akses pembiayaan mikro. Oleh karena itu, kami bekerja sama dengan Komisi VII DPR RI, pemerintah daerah, dan provinsi untuk mendorong para pelaku usaha agar dapat memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR),” paparnya.
Pemerintah, lanjut Riza, telah mengalokasikan dana sebesar Rp300 triliun untuk pembiayaan UMKM melalui skema KUR. Dana ini ditargetkan untuk menjangkau 2,4 juta debitur baru, 1,2 juta debitur graduasi, dan mengalokasikan 60% di antaranya untuk sektor produktif.
“Kami juga memiliki aspirasi untuk mendorong pembiayaan pada sektor-sektor unggulan di setiap daerah, dengan harapan dapat menciptakan lapangan kerja yang lebih luas serta berkontribusi signifikan terhadap pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.
Kegiatan Festival Kemudahan dan Perlindungan Usaha Mikro di Trenggalek ini menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam upaya memberdayakan dan memajukan sektor usaha mikro, yang memiliki peran krusial dalam perekonomian nasional.AR





Tinggalkan komentar