Bayangin aja, setiap kali kamu minum soda dingin, kunyah permen karet, pakai lipstick, atau telan obat sirup — ada kemungkinan bahan getah arab dari Sudan ikut “berkontribusi” ke ekonomi perang di sana. Bahan alami ini lagi jadi sorotan laporan terbaru Kantor Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) yang rilis 15 Juli 2026.

Apa sih Getah Arab Itu?

Getah arab (gum arabic) adalah resin alami yang diambil dari pohon akasia (Acacia senegal dan Acacia seyal) yang tumbuh di wilayah Sahel, terutama Sudan. Getah ini punya sifat emulsifier dan stabilizer yang keren banget:

  • Bikin minyak dan air di minuman bersoda nggak terpisah
  • Cegah gula mengkristal
  • Bikin tekstur permen dan kosmetik lebih halus
  • Dipakai juga di farmasi sebagai pengikat obat

Sebelum perang, Sudan adalah raja dunia untuk getah arab kasar — menguasai 70–80% pasokan global. Komoditas ini menghidupi jutaan petani dan keluarga di pedesaan, sekaligus jadi sumber devisa penting buat negara.

Perang Sudan yang Sudah Masuk Tahun Keempat

Perang saudara antara SAF (Sudanese Armed Forces) dan RSF (Rapid Support Forces) pecah sejak April 2023. Sekarang sudah lebih dari tiga tahun, dan dampaknya mengerikan:

  • Hampir 15 juta orang mengungsi
  • Jutaan orang kehilangan akses ke makanan, air bersih, kesehatan, dan pendidikan
  • Krisis kemanusiaan yang disebut salah satu yang terburuk di dunia saat ini

Getah Arab Jadi “Bahan Bakar” Perang

Laporan OHCHR berjudul The hidden cost of gum arabic: Inside Sudan’s war economy mengungkap fakta pahit: getah arab sudah terjebak dalam war economy atau ekonomi perang.

Kedua pihak yang bertikai semakin bergantung pada kontrol wilayah, rute perdagangan, dan komoditas alam (termasuk getah arab, emas, dan ternak) untuk biayai operasi militer mereka.

  • RSF disebut diuntungkan dari rampasan getah arab, pungutan liar ke pedagang, dan kontrol jalur perbatasan utama.
  • SAF mengenakan berbagai macam checkpoint (formal dan informal) yang bikin biaya perdagangan melonjak dan arus barang terganggu.

Petani, pemetik getah, dan pedagang kecil yang biasanya hidup dari komoditas ini sekarang hidup dalam ketakutan: perampokan, pemerasan, penahanan sewenang-wenang, bahkan ancaman terhadap keselamatan jiwa.

Pesan Keras dari PBB

UN High Commissioner for Human Rights, Volker Türk, mengatakan:

“Sudan’s vast wealth of natural resources should benefit its people. Distressingly, what we are seeing today is anything but that. In fact, this wealth is only serving to undermine human rights and drive conflict, bringing pain and suffering on an enormous scale.”

Intinya, kekayaan alam Sudan malah dipakai untuk memperpanjang penderitaan rakyatnya sendiri.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Laporan ini mendesak beberapa hal penting:

  1. Perusahaan global yang pakai getah arab (industri minuman, kosmetik, farmasi) harus melakukan human rights due diligence yang lebih ketat — cek asal-usul bahan baku supaya nggak ikut mendukung pelanggaran HAM.
  2. Negara tetangga Sudan diminta perketat pengawasan bea cukai untuk mencegah penyelundupan dan klaim palsu asal barang.
  3. Pihak-pihak yang bertikai harus menghormati hukum internasional: jangan rampok, jangan serang warga sipil, dan jangan ganggu orang yang bergantung pada rantai pasok getah arab.

Kesimpulan

Perang di Sudan bukan cuma soal perebutan kekuasaan politik. Ini juga soal siapa yang menguasai uang dari sumber daya alam. Getah arab yang selama ini kita anggap “bahan biasa” di produk sehari-hari, ternyata bisa punya sisi gelap kalau rantai pasoknya tidak diawasi dengan baik.

Semoga laporan ini bikin lebih banyak pihak sadar dan bertindak — karena pada akhirnya, yang paling menderita adalah rakyat biasa yang cuma ingin hidup tenang dari hasil kebunnya.

Sumber:

Tinggalkan komentar

Sedang Tren