Kebayang nggak sih rasanya kehilangan keluarga, tapi kamu bahkan nggak bisa menguburkan mereka dengan layak? Sayangnya, ini bukan adegan film sedih, melainkan realita pahit yang harus dihadapi banyak orang di Gaza saat ini.
Lebih dari dua tahun setelah rentetan serangan udara menghancurkan ribuan bangunan di Jalur Gaza, tim pertahanan sipil dan relawan lokal nyatanya masih berjuang di lapangan. Misi mereka cuma satu: membongkar puing-puing untuk mencari sisa-sisa jenazah yang masih tertimbun.
Menurut laporan dari UN News pada 11 Juli 2026, proses pencarian ini makin hari makin sulit. Kenapa?
- Minim Alat Berat: Boro-boro mau pakai ekskavator canggih, masuknya alat berat ke Gaza sangat dibatasi.
- Risiko Nyawa: Relawan harus kerja ekstra hati-hati karena masih banyak bom atau bahan peledak sisa perang yang belum meledak dan tertimbun di antara reruntuhan.
- Waktu yang Berlalu: Mengingat sudah lewat dua tahun, proses identifikasi jenazah jadi super susah karena pembusukan alami dan minimnya fasilitas tes DNA.
“Luka Kami Terbuka Lagi”
Ada satu cerita yang dijamin bikin dada sesak dari seorang warga bernama Ramez Nabhan. Di masa-masa awal perang, gedung tempat keluarganya bernaung hancur lebur terkena rudal. Ia kehilangan istri dan ketiga anaknya sekaligus.
Dulu, karena nggak ada alat berat dan bahan bakar, evakuasi nggak bisa dilakukan. Ramez harus nunggu bertahun-tahun. Kini, saat tim lokal akhirnya perlahan berhasil menemukan sisa-sisa jenazah keluarganya, ia harus menghadapi cobaan emosional yang baru.
“Rasanya perih banget saat luka ini harus terbuka lagi,” kata Ramez. “Kami hidup di antara rasa sakit mengenang kehilangan itu dan kewajiban mengurus pemakaman. Mereka itu anak-anakku, dan nggak ada kata-kata yang bisa gambarin perasaanku sekarang.”
Angka yang Bikin Merinding
Tragedi ini skalanya nggak main-main, guys. Laporan PBB dan para mitranya di bulan April 2026 mencatat, perang tersebut merenggut nyawa lebih dari 71.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 171.000 orang lainnya. Yang lebih bikin sedih? PBB menyebut masih ada ribuan orang yang berstatus hilang, dan kemungkinan besar masih terkubur di bawah beton-beton bangunan yang hancur.
Bagi ribuan keluarga di Gaza, penderitaan ternyata nggak berhenti di momen kehilangan nyawa orang tersayang. Penderitaan itu memanjang jadi penantian bertahun-tahun tanpa kepastian, hanya untuk bisa mengucapkan selamat tinggal untuk yang terakhir kalinya.
Jangan sampai kita lupa sama penderitaan mereka ya. Yuk, terus sebarkan awareness soal kondisi di sana!





Tinggalkan komentar