Kediri – Museum Sri Aji Jayabaya kini hadir dengan wajah baru yang memberikan pengalaman lebih nyaman bagi pengunjung dalam melihat koleksi bersejarah di Kabupaten Kediri.
Sebelumnya, Museum Sri Aji Jayabaya ditutup sementara sebagai bagian dari upaya pembenahan dan peningkatan fasilitas sejak 3 Mei 2026. Museum tersebut kemudian dibuka kembali pada 19 Mei 2026.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Mustika Prayitno Adi, mengatakan bahwa penataan ulang yang dilakukan tidak sekadar mempercantik tampilan ruang, tetapi juga memperkuat pengalaman pengunjung dalam mengenal sejarah dan budaya Kabupaten Kediri.
“Iya, dia sudah beda. Ini dari pencahayaan, dari cat di atas, cat plafon, cat dinding, dari lampu-lampu. Terus yang paling penting flow-nya ini sudah diubah. Jadi tata ruangnya ini sudah diubah juga kemarin, terus termasuk penempatan kitchen sink ini, pengamanan artefak yang ada di sini,” jelasnya saat ditemui Jumat (22/5/2026).
Sebagian koleksi artefak yang dinilai memiliki nilai sejarah lebih kini dipasang pelindung kaca guna mengurangi risiko kerusakan akibat interaksi langsung.
Menurut Mustika, setiap koleksi memiliki nilai masing-masing. Namun, perlakuan terhadap benda disesuaikan dengan tingkat kerentanan dan nilai historisnya. Sentuhan berulang dari pengunjung dinilai dapat mengurangi detail permukaan sekaligus mempercepat proses kerusakan.
“Iya, ini memang harus dibatasi betul untuk interaksi langsung karena memang nilai sejarahnya, terus dari barangnya juga itu butuh pengamanan khusus, jangan sampai orang pegang karena ini ada detailnya semacam ini. Sangat rawan sekali karena sangat rentan, apalagi ini salah satu masterpiece kita,” tegasnya.
Beberapa koleksi yang diproteksi diketahui berasal dari rentang abad ke-11 hingga abad ke-14 dan memerlukan penanganan konservasi yang lebih ketat.
Sementara itu, beberapa benda lain yang dinilai lebih aman tetap ditampilkan secara terbuka agar pengunjung dapat merasakan kedekatan dengan objek sejarah.
Tidak hanya itu, identitas koleksi kini juga diperjelas melalui penambahan name tag serta informasi pendukung pada masing-masing benda.
Jumlah koleksi yang dipamerkan tetap sama seperti sebelumnya, yakni sebanyak 54 koleksi. Meski demikian, dilakukan penyegaran dengan mengganti beberapa koleksi sehingga nilai historis yang ditampilkan menjadi lebih kuat.
“Intinya sama, jadi sama. Cuma ada perubahan jenis. Jadi yang ditarik, yang dimasukkan lebih bernilai dari sisi historisnya,” terangnya.
Sementara itu, Edukator Museum, M. Ipung Zainul Islam Sumarwoto, menjelaskan bahwa perlindungan artefak menjadi hal penting karena banyak benda sangat sensitif terhadap sentuhan manusia.
“Benda ini rawan sih, Mbak. Rawan untuk rusak, apalagi kan kalau kita bicara tangan manusia. Dia sebelum datang ke museum ini atau tangannya itu berminyak kan enggak, kita kan enggak tahu. Kemarin itu saja sudah ada yang dikorban. Jadi banyak ibu-ibu datang ke sini, pegang-pegang. Akhirnya dia (artefak) wajahnya satu sisi kan kelihatan gelap karena ada minyak tangan itu,” ujarnya.
Ke depan, Museum Sri Aji Jayabaya juga disiapkan untuk menambah koleksi dengan konsep ruang transisi antara zona arkeologika dan etnografika. Nantinya, pengunjung dapat melihat keterhubungan antara peninggalan masa lalu dengan budaya masyarakat secara lebih utuh.
“Jadi di situ konsepnya nanti di ruang tengah nanti transisi antara arkeologika ke etnografika. Jadi biar menyatu, oh ini masih ada artefak, setelah itu ada mungkin stereotip prototype dari jaranan mungkin. Jadi ada transisi. Setelah itu baru ke sana sudah etnografika semua,” ujar Mustika.
Pengembangan museum dilakukan secara bertahap dan ditargetkan mencapai tahap grand launching pada akhir 2027.
“Ini proses, nanti akhir tahun buka ada penambahan-penambahan lagi, awal tahun berikutnya. Targetnya 2027 akhir, sudah bisa grand launching,” tandas Mustika. (AB)




Tinggalkan komentar