Kediri – Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana melepas jemaah haji kloter 112, dengan suasana haru dan penuh doa, Rabu (20/5/2026). Yang menarik, dalam kloter terakhir tahun ini, ada jemaah paling tua se-Indonesia denga usia 105 tahun.
Adalah Marsiah, jemaah haji tertua se-Indonesia asal Kecamatan Semen yang mengaku bahagia dan siap untuk menjalankan ibadah haji nanti.
“Nggih ayem, seneng,” katanya saat pelepasan jemaah haji di kawasan Simpang Lima Gumul (SLG), Kabupaten Kediri, Rabu (20/5/2026).
Sementara itu, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menyampaikan rasa syukur atas keberangkatan para calon tamu Allah tersebut. Jumlah jemaah haji kloter 112 ini berjumlah 147. Sementara, total jemaah haji Kabupaten Kediri tahun ini sebanyak 1219 orang.
“Ya, ini alhamdulillah tadi jemaah tertua usia 105 berangkat di kloter 112. Total jemaah haji Kabupaten Kediri tahun ini ada di 1219 kalau saya tidak salah,” ujarnya.
Selain terdapat jemaah tertua juga ada yang termuda dalam pemberangkatan kloter terakhir tersebut yakni 22 tahun.
Melihat rentang usia yang cukup jauh itu, Mas Dhito, sapaan akrabnya menitipkan pesan sederhana namun bermakna, yakni agar para jemaah saling membantu selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
“Tadi dalam satu bus, ada yang usianya 105 tahun, ada yang usianya 22 tahun. Nah, artinya yang 22 tahun ini membantu yang 105 tahun kalau ada hal-hal yang diperlukan nantinya di saudi,” terangnya.
Dengan persiapan kesehatan dan semangat saling menjaga, keberangkatan jemaah haji Kabupaten Kediri tahun ini diharapkan berjalan lancar hingga seluruh jemaah kembali ke tanah air dalam keadaan sehat dan menyandang predikat haji mabrur.
“Saya titip satu lagi, Kabupaten Kediri didoakan supaya tetap menjadi kabupaten yang guyub, rukun, ayem tentrem, gemah ripah loh jinawi,” tandas Mas Dhito.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri Ahmad Khotib mengimbau para jemaah untuk tetap menjaga kondisi tubuh selama menjalankan ibadah.
Menurutnya, jemaah perlu menjaga kebersihan diri, mengatur aktivitas ibadah agar tidak kelelahan, serta memperhatikan asupan cairan mengingat cuaca panas di Tanah Suci.
“Jangan lupa menyediakan waktu untuk istirahat dan yang paling penting adalah asupan makanan, minuman, dan terutama minum. Kondisi karena cuaca panas, minum tidak boleh diabaikan. Minimal 2 jam sekali harus minum, ya. Satu gelas atau kalau lebih bisa dua gelas dan sebagainya. Minimal 2 jam sekali harus minum untuk mencegah berbagai dampak daripada cuaca yang panas di tanah suci,” tegasnya. (AB)





Tinggalkan komentar