Jember – Kenaikan harga bahan bangunan mendorong perwakilan kontraktor dari Gapensi mengadu ke Komisi C DPRD Jember, Rabu (29/4/2026). Mereka menilai lonjakan harga dipicu kondisi politik global yang tidak menentu, sehingga harga material menjadi fluktuatif.
Wakil Ketua I BPC Gapensi Jember, Erwindo Wicaksono, mengungkapkan bahwa Harga Perkiraan Sendiri (HPS) awal tahun untuk aspal berada di angka Rp1,5 juta, namun di lapangan sudah meningkat hingga Rp1,9 juta.
“Kita masa sebelum kerja kita rugi. Dikaji ulang 15 April kemarin ada kenaikan, hingga ada AMP memberikan harga Rp1,9 juta. Kita juga bingung, nanti dinas atau OPD ini mau mengeluarkan berapa,” ungkapnya.
“Karena yang diharapkan teman-teman bisa mendapatkan keuntungan yang normal atau layak, dan tidak mempengaruhi kualitas,” lanjutnya.
Menurutnya, kenaikan harga berpotensi membuat kontraktor menurunkan kualitas pekerjaan. Karena itu, pihaknya berharap ada kepastian harga agar proyek tidak tertunda.
“Di Jember sudah ada AMP dengan harga Rp1,9 juta. Kalau menunggu kepastian atau pekerjaan mundur, tentu di tahun ini akan mengalami kesulitan,” akunya.
“Jadi kami berharap pekerjaan bisa segera di launching, agar teman-teman konstruksi bisa segera bekerja dan perputaran ekonomi bisa berjalan,” harapnya.
Sementara jru Anggota Komisi C DPRD Jember, Agung Budiman, mengatakan para pelaku usaha konstruksi mengeluhkan ketidakpastian harga yang berpotensi merugikan setelah kontrak berjalan.
“Mereka galau bila harga bahan bangunan ini tidak menentu, mereka kuatir bila sudah kontrak harganya berubah-berubah. Kami meminta agar harga satuan segera ditetapkan dan segera dilaksanakan, mengingat azas manfaat masyarakat segera berjalan,” katanya usai RDP dengan Gapensi Jember.
Agung juga mengingatkan agar kondisi seperti tahun 2025 tidak terulang, di mana kontraktor harus mengejar target pekerjaan hingga berdampak pada penurunan kualitas.
“Jadi rekanan bisa mengukur sendiri kualitasnya, karena lebih tahu setelah kontrak. Jangan sampai mutu tidak sesuai,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa harga material berbeda di setiap daerah karena dipengaruhi faktor jarak dan ketersediaan produk lokal.
“Produknya lokal, karena juga terpengaruh dengan jarak, yang harganya juga tidak sama,” ujarnya. (AB)




Tinggalkan komentar