Jember – Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Jember turun tangan menangani dugaan pengeroyokan terhadap seorang pelajar SMA berinisial F (15).
Kepala Bidang Perlindungan Anak Dinas Sosial PPPA Jember, Sugeng Riyadi, menyampaikan bahwa pihaknya telah mengutus petugas dan pekerja sosial (peksos) untuk memberikan perlindungan kepada korban, termasuk kepada para terduga pelaku pengeroyokan, mengingat semuanya masih berstatus anak-anak.
“Beberapa terduga pelaku ada yang dari SMA dan ada yang dari SMP. Namun hingga saat ini, UPT PPPA bersama peksos terus melakukan pendampingan. Berdasarkan informasi di Polsek, para pelaku tidak berasal dari sekolah yang sama dengan korban, yakni SMA Ma’arif,” kata Sugeng, Kamis (2/3/2026).
Menurut Sugeng, dari 10 orang terduga pelaku yang melakukan pengeroyokan dan menelanjangi korban, tidak satu pun berasal dari sekolah yang sama dengan korban.
“Salah satunya ada yang masih SMP. Oleh karena itu, kami juga berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Jember dan Cabang Dinas (Cabdin) Jawa Timur Wilayah Jember,” ungkapnya.
Karena para pihak masih berstatus pelajar, Dinsos PPPA Jember memberikan pendampingan dan perlindungan baik kepada korban maupun terduga pelaku.
“Pendampingan diberikan kepada korban dan juga para pelaku,” ujarnya.
Sugeng mengaku belum mengetahui secara pasti jumlah anak yang telah menjalani pemeriksaan di Polsek Jombang karena petugas masih dalam perjalanan kembali.
“Petugas sudah mendatangi korban di Polsek serta para pelaku, tetapi saya belum mengetahui jumlah pastinya. Besok kami rencanakan akan ke sana untuk memastikan pendampingan bagi korban maupun para terduga pelaku,” jelasnya.
Terkait motif, berdasarkan informasi sementara, salah satu terduga pelaku tidak terima atas kiriman pesan suara (voice note) dari ponsel korban yang dikirim oleh temannya.
Sugeng juga menegaskan bahwa kesepuluh terduga pelaku merupakan pelajar dari sekolah yang berbeda-beda.
“Informasinya, para pelaku bukan berasal dari sekolah korban, melainkan dari luar. Bahkan ada yang pernah satu SMP dengan korban, tetapi kini tidak lagi satu sekolah,” ujarnya.
Untuk saat ini, kondisi korban belum memungkinkan untuk kembali bersekolah karena masih mengalami luka ringan dan trauma.
“Masih ada sedikit lebam, tidak sampai parah. Namun tetap ada bekas luka dan kemungkinan trauma,” terangnya.
Sugeng menegaskan pihaknya akan terus memberikan pendampingan kepada korban maupun para terduga pelaku.
“Tadi sudah didampingi oleh tim kami, namun kami masih menunggu informasi lebih lanjut,” pungkasnya.




Tinggalkan komentar