Kediri – SMP Negeri 3 Grogol, Kabupaten Kediri, membangun tiga rumah ibadah sekaligus, yakni musala, gereja, dan pura. Langkah ini menjadi wujud nyata penguatan moderasi beragama di lingkungan sekolah dan mendapat apresiasi penuh dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Muhsin, menilai inisiatif SMPN 3 Grogol sebagai langkah luar biasa yang mencerminkan semangat toleransi dan kebhinekaan.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Kediri, dalam hal ini Dinas Pendidikan, kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif SMP Negeri 3 Grogol yang mendirikan tiga tempat ibadah sekaligus, yakni musala, gereja, dan pura. Ini menjadi yang kedua di Kabupaten Kediri setelah SD Besowo,” ujarnya usai kegiatan peletakan batu pertama pembangunan tiga rumah ibadah di SMPN 3 Grogol, Kamis (29/1/2026).
Muhsin menegaskan, keberadaan tiga rumah ibadah tersebut diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas ibadah, tetapi juga menjadi laboratorium pendidikan karakter moderasi beragama. Nilai tersebut ditopang oleh empat pilar utama, yakni komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, serta penghargaan terhadap budaya lokal.
“Kami berharap setelah berdiri, tiga tempat ibadah ini bisa menjadi laboratorium pendidikan karakter moderasi beragama yang ditopang empat pilar, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan penguatan budaya lokal,” tegasnya.
Meski belum ada regulasi khusus terkait bantuan pembangunan tempat ibadah di sekolah, Muhsin menyatakan Dinas Pendidikan tetap memberikan dukungan secara moral dan nonformal. Bahkan, dukungan secara pribadi juga dimungkinkan demi kelancaran pembangunan.
“Secara formal memang belum ada aturan bantuan pembangunan tempat ibadah di sekolah. Namun secara nonformal, kami tetap mendukung penuh. Bahkan secara individu, saya dan rekan-rekan juga bisa memberikan dukungan sesuai kemampuan,” jelasnya.
Inisiatif pembangunan ini disambut antusias oleh para wali murid dari berbagai latar belakang agama. Angger, perwakilan wali murid beragama Kristen, mengaku bangga sebagai bagian dari kelompok minoritas.
“Sebagai orang tua dan sebagai minoritas, saya bangga. Anak saya tidak merasa sendiri. Iman mereka bisa bertumbuh lebih kuat karena difasilitasi gereja di sekolah,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Heri Iswanto, perwakilan umat Hindu. Menurutnya, pembangunan tiga rumah ibadah menjadi pondasi penting dalam menanamkan nilai persatuan dan saling menghargai sejak dini.
“Dari sinilah kita memupuk rasa persatuan, saling menghargai, dan saling menjaga dalam satu bingkai negara. Musala, gereja, dan pura ini adalah mimpi bersama yang ingin kita wujudkan,” katanya.
Ia menambahkan, kendala utama pembangunan terletak pada pembiayaan. Namun hal tersebut diatasi melalui semangat gotong royong bersama komite sekolah dan para wali murid. Kontribusi diberikan tidak hanya dalam bentuk dana dan material, tetapi juga tenaga.
Sementara itu, Kepala SMPN 3 Grogol, Musiin, mengungkapkan gagasan pembangunan tiga rumah ibadah telah direncanakan sejak tiga tahun lalu. Ide tersebut muncul karena keterbatasan ruang ibadah bagi siswa non-muslim yang selama ini harus memanfaatkan ruang laboratorium.
“Ini adalah mimpi yang akhirnya menjadi nyata. Sejak 20 Desember lalu, kami menyampaikan rencana sekolah untuk benar-benar menampung keberagaman di SMPN 3 Grogol. Ini langkah kecil yang kami harapkan menjadi langkah besar,” terangnya.
Musiin menegaskan, seluruh pendanaan pembangunan bersumber dari partisipasi sukarela masyarakat dengan prinsip transparansi dan keterbukaan. Target penyelesaian pembangunan ketiga rumah ibadah tersebut diperkirakan rampung dalam waktu empat bulan.
Saat ini, SMPN 3 Grogol memiliki sekitar 480 siswa dengan latar belakang agama yang beragam, di antaranya sekitar 20 siswa beragama Hindu dan 20 siswa beragama Kristen. Keberadaan tiga rumah ibadah ini diharapkan mampu membentuk generasi berkarakter mulia, saling menghargai perbedaan, dan menjunjung tinggi nilai toleransi.
“Harapan kami sederhana, anak-anak tumbuh menjadi pribadi berkarakter mulia, mampu menghargai perbedaan, dan hidup rukun dalam keberagaman,” pungkasnya. (AB)




Tinggalkan komentar