Kediri – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH M. Anwar Iskandar mengingatkan bahwa kehancuran sebuah negara di era modern tidak selalu datang lewat senjata, melainkan melalui tekanan ekonomi. Melemahnya nilai tukar rupiah yang sempat mendekati Rp17.000 per dolar AS merupakan sinyal yang patut diwaspadai.

Pernyataan itu disampaikan Gus War di rumahnya, Pondok Pesantren Al-Amien, Kamis (22/01). Ia menilai gejolak nilai tukar mencerminkan rapuhnya koordinasi kebijakan antara otoritas fiskal dan moneter.

“Kalau kebijakan berjalan sendiri-sendiri, akibatnya bisa lebih berat. Untung kemarin segera diatasi,” ujar Gus War, merujuk rapat di Istana Negara yang melibatkan Menteri Keuangan, Sekretaris Negara, Gubernur Bank Indonesia, dan DPR.

Menurut Gus War, independensi Bank Indonesia tidak boleh dimaknai sebagai kebebasan tanpa koordinasi. Tanpa sinergi yang konsisten, kebijakan fiskal dan moneter justru berpotensi menjadi bumerang bagi perekonomian nasional.

Ia menekankan pentingnya memastikan uang negara beredar di tengah masyarakat, bukan mengendap di lembaga keuangan. Perputaran dana di sektor riil, terutama melalui UMKM, dinilai menjadi penopang utama ketahanan ekonomi rakyat.

“Uang harus produktif. Kalau hanya disimpan dan tidak beredar, ekonomi rakyat mati,” katanya.

Gus War juga menyoroti praktik penarikan pajak di lapangan yang dinilainya belum berpihak pada keadilan sosial. Ia mengkritik penarikan pajak terhadap pedagang kecil di pasar yang penghasilannya pas-pasan.

“Penghasilan seratus ribu per hari belum apa-apa, sudah ditarik pajak. Ini yang perlu dikoreksi,” ujarnya.

Menurut Gus War, pajak semestinya dipungut ketika ekonomi telah berputar dan masyarakat memiliki daya tahan. Saat ekonomi melemah, negara seharusnya hadir untuk melindungi, bukan menambah beban.

Ia menegaskan, ekonomi rakyat yang hidup, kebijakan fiskal dan moneter yang selaras, serta pajak yang berkeadilan merupakan kunci agar ekonomi tidak berubah menjadi senjata penghancur negara, melainkan fondasi kedaulatan nasional. (AB)

Tinggalkan komentar

Sedang Tren