Trenggalek – Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin bersama tim dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas melakukan peninjauan pengerjaan normalisasi di empat jalur sungai yang rawan banjir. Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya mitigasi bencana yang serius, mengingat Trenggalek sering dilanda banjir akibat curah hujan tinggi. Progres pengerjaan saat ini sudah mencapai 62 persen, menunjukkan kemajuan signifikan dalam proyek strategis ini.Rabu (3/9).

​Empat titik lokasi yang menjadi fokus normalisasi adalah Sungai Timur Jembatan Sumber (Kecamatan Karangan), Sungai Ngasinan (Kelurahan Kelutan), sekitar Jembatan Desa Karanganyar (Kecamatan Gandusari), dan sekitar Jembatan Desa Sumbergayam (Kecamatan Durenan).

Titik-titik ini dipilih berdasarkan kerawanan banjir yang kerap terjadi.
​Dalam tinjauannya, Bupati Nur Arifin, yang akrab disapa Mas Ipin, menyampaikan apresiasi mendalam atas kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Trenggalek dan BBWS Brantas.

“Terima kasih atas kerja sama yang baik. Berkat koordinasi ini, pengerjaan normalisasi, terutama penguatan tanggul di beberapa aliran sungai, dapat terlaksana. Ini adalah langkah antisipasi yang sangat penting untuk mencegah banjir,” ujarnya.

​Mas Ipin juga menekankan pentingnya sinergi dalam menjaga kelestarian sungai. “Perawatan sungai adalah kewajiban PJT (Perum Jasa Tirta), sementara Pemkab bertanggung jawab menjaga keamanan dan ketertiban. Namun, semuanya harus bergotong royong sesuai dengan tugas masing-masing,” tegasnya.

​Selain pengerukan dan penguatan tanggul, Pemkab Trenggalek berencana untuk melangkah lebih jauh dengan melakukan naturalisasi sungai. Rencana ini mencakup penanaman vetiver, bambu, dan pohon penguat di sekitar tanggul.

“Harapan kami, infrastruktur ini tidak hanya kokoh, tetapi juga menjadi green infrastructure yang selaras dengan alam. Dengan begitu, alam pun akan ikut menjaga kita,” kata Nur Arifin.

​Menariknya, beberapa area tanggul juga akan dimanfaatkan sebagai jogging track bagi masyarakat. Ini adalah langkah inovatif untuk menghubungkan masyarakat dengan alam sekaligus mempromosikan gaya hidup sehat.

“Dengan begitu, sungai tidak hanya berfungsi untuk mencegah banjir, tetapi juga bisa menjadi pusat aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat,” tambahnya.

​Sementara itu, Kepala Satker Operasional dan Pemeliharaan BBWS Brantas, Danny R. T, menjelaskan progres pengerjaan yang sudah mencapai 62 persen.

“Kami targetkan akhir September atau awal Oktober pekerjaan bisa selesai semua,” jelasnya.

Danny juga menekankan bahwa pekerjaan ini bersifat jangka pendek dan memerlukan pemeliharaan berkelanjutan.

“Nantinya, dibutuhkan kerja sama dengan PJT sebagai pengelola sungai agar sungai tidak kembali dangkal,” pungkasnya.

​Pengerjaan normalisasi ini tidak hanya menjadi solusi teknis untuk masalah banjir, tetapi juga sebuah visi jangka panjang untuk menciptakan Trenggalek yang lebih hijau, aman, dan berkelanjutan. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam penanggulangan bencana berbasis alam.AR

Tinggalkan komentar

Sedang Tren