TRENGGALEK – Ketersediaan guru mata pelajaran muatan lokal (mulok) Bahasa Jawa di sekolah-sekolah Kabupaten Trenggalek menjadi perhatian serius. Ketua Komisi IV DPRD Trenggalek,Dr. Sukarodin, M.Ag, menyoroti minimnya tenaga pengajar khusus Bahasa Jawa yang berpotensi melemahkan upaya pelestarian budaya lokal.Kamis(21/8)
”Saat kami tanyakan, ternyata masih banyak sekolah yang belum memiliki guru khusus Bahasa Jawa. Ini tentu sangat memprihatinkan,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan perlunya langkah konkret dari Pemerintah Kabupaten Trenggalek. Ia mendesak agar pemerintah daerah segera mengalokasikan anggaran untuk menggelar workshop atau pelatihan bagi para guru. Tujuannya agar metode pembelajaran Bahasa Jawa menjadi lebih terarah dan efektif, sehingga menarik minat siswa.
Selain masalah guru Bahasa Jawa, Komisi IV juga menyoroti sejumlah isu pendidikan lainnya yang mendesak. Salah satunya adalah tambahan penghasilan bagi tenaga pendidik PAUD, yang selama ini dinilai masih kurang memadai.
Tak hanya itu, DPRD Trenggalek juga menyoroti dukungan finansial untuk Madrasah Diniyah (Madin). Husni menjelaskan bahwa selama enam bulan terakhir, dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur terhenti. Sementara itu, dalam draf anggaran kabupaten, alokasi yang ada baru mencakup tiga bulan.
”Kami meminta agar setidaknya bisa dianggarkan untuk lima bulan terlebih dahulu. Akan lebih baik jika pada pembahasan APBD 2026 nanti, dukungan ini bisa dicakup untuk satu tahun penuh,” tegasnya.
Dengan berbagai usulan ini, DPRD berharap Pemerintah Kabupaten Trenggalek memprioritaskan peningkatan dukungan anggaran, baik untuk pendidikan dasar, pelestarian budaya lokal melalui Bahasa Jawa, maupun lembaga pendidikan keagamaan. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat fondasi pendidikan dan budaya di Trenggalek.AR





Tinggalkan komentar