TRENGGALEK – Pemerintah Kabupaten Trenggalek tengah merancang sebuah penataan kota ambisius dalam jangka menengah, dengan fokus utama pada penerapan jalur satu arah di sepanjang Jalan Panglima Sudirman, membentang dari pertigaan Replika Candi Brawijaya hingga Alun-Alun Trenggalek. Rencana ini digadang-gadang akan menjadi ikon baru bagi kota, menyerupai kawasan Malioboro di Yogyakarta atau pusat kota Madiun.Kamis(10/7)
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Trenggalek, Agus Dwi Karyanto, menjelaskan bahwa minimal jalur satu arah akan diberlakukan dari Alun-Alun hingga Bank Jatim.
“Ini akan menjadi ikon baru, seperti Malioboro atau kawasan kota di Madiun,” ujar Agus.
Agus menambahkan, penerapan jalur satu arah ini akan membuka ruang parkir yang lebih luas dan secara signifikan mendukung kawasan tersebut sebagai pusat aktivitas publik. Ke depannya, diharapkan masyarakat di sekitar Pasar Pon, Jalan Panglima Sudirman, hingga instansi terkait akan lebih banyak beraktivitas dengan berjalan kaki, menciptakan lingkungan yang lebih ramah pejalan kaki.
Tak hanya itu, Dishub Trenggalek juga berencana mengubah kawasan Pasar Sore menjadi pasar tematik dengan struktur yang lebih tertata dan tampilan klasik, demi menunjang estetika kota.
Inovasi lainnya adalah usulan perubahan fungsi tugu di sebelah selatan Pasar Pon. Tugu tersebut diusulkan untuk dijadikan titik nol kilometer utara, menggantikan lokasi lama di depan seputaran toko Eiger sisi selatan.
“Selama ini Tugu di Pasar Pon tidak punya makna khusus. Kalau dijadikan sebagai titik nol utara, itu akan jadi penanda penting wilayah kota,” jelas Agus.
Pengalihan Lalu Lintas dan Pengembangan Ekonomi Baru
Dalam skema penataan ini, lalu lintas dari arah selatan akan dialihkan melalui Jalan Brigjen Soetran menuju pusat kota, serta menuju barat di Jalan Soedomo. Agus optimis pengalihan ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi baru di kawasan tersebut.
“Trotoar di Brigjen Soetran juga akan dilebarkan untuk tempat nongkrong. Saat ini jalur itu sepi, tapi kalau ditata ulang, bisa jadi kawasan ekonomi baru,” paparnya.
Trotoar yang diperluas nantinya dapat dimanfaatkan oleh pedagang kaki lima (PKL) tanpa mengganggu hak pejalan kaki, sekaligus diharapkan mampu mendongkrak retribusi parkir daerah dan menghidupkan kembali toko-toko yang saat ini tutup.
“Ini strategi jangka menengah kita, Diharapkan dalam lima tahun ke depan penataan ini bisa terwujud dan memberikan dampak positif pada pertumbuhan ekonomi kota,” pungkas Agus.AR





Tinggalkan komentar