TRENGGALEK – Musim kemarau basah yang kini melanda Kabupaten Trenggalek membawa dampak signifikan bagi sektor pertanian. Data terbaru menunjukkan, sedikitnya 400 hektare sawah terendam banjir, dengan 29 hektare di antaranya mengalami puso atau gagal panen total.Kamis(3/7)

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Trenggalek, Imam Nurhadi, menjelaskan bahwa pola cuaca saat ini, dengan pagi cerah dan hujan pada sore hingga malam hari, sangat memengaruhi pertanian.

“Kita masih dihadapkan pada iklim kemarau basah. Ini sangat berkaitan dengan dunia pertanian,” ujar Imam.

Imam merinci, lahan pertanian yang terdampak banjir tersebar di tujuh kecamatan, meliputi Trenggalek, Pogalan, Gandusari, Durenan, Watulimo, Panggul, dan Munjungan. Mayoritas sawah yang terendam banjir berada pada fase pembibitan. Sebagai bentuk dukungan, Dinas Pertanian dan Pangan telah mendistribusikan bantuan bibit padi kepada petani yang terdampak.

“Kami bantu bibit padi bagi yang terdampak. Kebetulan waktu itu masih uritan,” tambah Imam.

Selain ancaman banjir, Dinas Pertanian dan Pangan Trenggalek juga mewaspadai potensi serangan hama pasca-banjir. Beberapa jenis hama yang menjadi perhatian utama adalah wereng, sundep, dan potong leher.

“Sudah kami lakukan pengamatan dan gerakan pengendalian di beberapa titik. Untuk potong leher, karena sifatnya harus preventif, perlu penanganan sejak awal,” jelas Imam.

Meski menghadapi tantangan, Imam juga melihat peluang positif dari fenomena kemarau basah ini, yaitu potensi peningkatan indeks pertanaman (IP). Ia menyebutkan bahwa pada Masa Tanam (MT) 2, sekitar 90 persen petani di Trenggalek masih memilih menanam padi.

“Harapan kami di MT 3 nanti, petani tetap menanam padi. Sampai akhir 2025, IP diharapkan naik dari 2,1 menjadi 2,5,” pungkasnya, menunjukkan optimisme terhadap produktivitas pertanian di Trenggalek.AR

Tinggalkan komentar

Sedang Tren