TRENGGALEK – Suasana Pantai Bangkokan di Dusun Karanggongso, Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, tampak ramai dipadati ratusan warga. Kedatangan mereka adalah untuk menyaksikan dan mengikuti puncak dari tradisi tahunan Larung Sembonyo, sebuah ritual yang menjadi bagian tak terpisahkan dari upacara bersih desa setempat.Rabu(28/5)

Tradisi yang rutin digelar setiap bulan Selo dalam penanggalan Jawa ini dimulai dengan sebuah kirab meriah. Tiga jenis tumpeng diarak dari Pantai Simbaronce menuju Pantai Bangkokan. Ketiga tumpeng tersebut memiliki makna dan isi yang berbeda, yaitu tumpeng berisi 48 macam sesajen, buceng agung yang merupakan tumpeng berukuran besar, serta gunungan yang berisikan berbagai hasil bumi seperti sayur-mayur dan buah-buahan.

Kemeriahan arak-arakan semakin terasa dengan adanya pertunjukan kesenian tradisional yang dibawakan oleh warga setempat. Mereka tampak anggun dan gagah mengenakan busana adat, menambah semarak jalannya ritual.

Ketua adat Dusun Karanggongso, Yahman, menjelaskan bahwa ritual Larung Sembonyo ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki yang telah diberikan, terutama dari hasil laut yang menjadi sumber penghidupan utama mereka. Lebih dari itu, ia menekankan bahwa tradisi ini memiliki peran penting dalam mempererat tali persaudaraan antar warga serta melestarikan nilai-nilai kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Ini adalah bentuk syukur dan kebersamaan seluruh warga Karanggongso. Kami memiliki harapan besar agar tradisi yang luhur ini dapat terus lestari hingga generasi mendatang,” ungkap Yahman di sela-sela acara.

Selain memiliki nilai spiritual yang mendalam, Yahman juga berharap bahwa tradisi Larung Sembonyo ini dapat menjadi daya tarik wisata yang kuat bagi kawasan pesisir Trenggalek.

“Karanggongso memiliki potensi yang sangat besar di sektor pariwisata, terutama wisata pantainya,” imbuhnya.

Rangkaian acara bersih desa di Dusun Karanggongso tidak hanya diisi dengan Larung Sembonyo. Sebelumnya dan sesudahnya, juga digelar berbagai kegiatan lain seperti lomba balap perahu kunting yang menjadi ciri khas daerah pesisir, pengajian untuk memperkuat nilai-nilai agama, serta pertunjukan wayang kulit yang merupakan bagian dari kekayaan budaya Jawa.

Seorang nelayan setempat, Hidayat, mengungkapkan rasa bangganya dapat menjadi bagian dari tradisi yang telah mengakar kuat di masyarakatnya.

“Ini adalah hajatnya para nelayan. Kami akan terus berusaha melestarikannya meskipun dengan dana swadaya dan bantuan dari para donatur,” tuturnya.AR

Tinggalkan komentar

Sedang Tren