TRENGGALEK,– Tradisi bersih Dam Bagong atau yang dikenal dengan Nyadran tetap berlangsung khidmat di Trenggalek hari ini. Meskipun Bupati Trenggalek berhalangan hadir karena sedang menjalankan dinas luar daerah, antusiasme dan kekhusyukan masyarakat dalam melaksanakan ritual adat ini tidak berkurang sedikit pun.Jum’at(23/5)

Acara Nyadran ini merupakan wujud syukur masyarakat atas limpahan rezeki selama setahun terakhir. Selain itu, ritual ini juga menjadi momentum untuk memanjatkan doa dan harapan agar Kabupaten Trenggalek senantiasa diberikan keselamatan, kesejahteraan, dan dijauhkan dari segala marabahaya di tahun yang akan datang.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Trenggalek, Sunyoto, yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan bahwa tradisi Bersih Dam Bagong adalah warisan budaya luhur yang tumbuh dari keinginan masyarakat dan terus dilestarikan secara turun-temurun.

“Bersih Dam Bagong ini adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki setahun belakangan, sekaligus permohonan agar Trenggalek ke depan lebih sejahtera, makmur, dan dijauhkan dari bala,” ungkap Sunyoto usai pelaksanaan ritual.

Lebih lanjut, Sunyoto menyinggung kondisi Trenggalek yang tengah dilanda musibah tanah longsor akibat hujan deras. Ia mengatakan bahwa pelaksanaan tradisi ini juga menjadi momen doa bersama agar daerah segera pulih dan dijauhkan dari bencana serupa di masa mendatang.

“Meskipun Tuhan memberi cobaan berupa hujan yang mengakibatkan longsor dan berdampak ke masyarakat, tradisi ini menjadi momentum refleksi dan doa bersama,” jelasnya.

Sunyoto juga menekankan nilai historis yang terkandung dalam tradisi ini, yang erat kaitannya dengan jasa besar Ki Ageng Menak Sopal sebagai tokoh pelopor pembangunan irigasi Dam Bagong. Ia berharap semangat perjuangan dan gotong royong yang diwariskan oleh tokoh tersebut dapat terus dipegang teguh oleh masyarakat Trenggalek.

“Tradisi ini mengingatkan kita pada perjuangan Ki Ageng Menak Sopal. Semangat gotong royong yang diwariskan harus terus kita jaga,” tegasnya.

Pelaksanaan tradisi Nyadran Dam Bagong tahun ini juga menunjukkan adanya peningkatan kemandirian masyarakat. Menurut Sunyoto, meskipun dukungan anggaran dari pemerintah mengalami efisiensi, masyarakat mampu melaksanakan ritual adat ini secara swadaya berkat semangat gotong royong yang kuat.

“Tahun ini saya melihat masyarakat lebih mandiri. Meski minim dukungan pemerintah, mereka tetap bisa menjalankan kegiatan ini karena gotong royong,” ungkapnya.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Trenggalek juga terus berupaya untuk mewariskan nilai-nilai luhur tradisi ini kepada generasi muda. Mereka mendorong agar anak-anak muda dapat memahami filosofi yang terkandung di balik tradisi Nyadran, yang sarat akan nilai kebersamaan dan penghormatan kepada leluhur.

“Kami dorong generasi muda untuk memahami makna di balik tradisi ini. Filosofi budaya Jawa sangat kaya dan perlu digali,” kata Sunyoto.

Pelaksanaan tradisi Bersih Dam Bagong di Trenggalek tahun ini menjadi bukti kuatnya akar budaya dan semangat gotong royong masyarakat, bahkan di tengah tantangan yang dihadapi daerah. Tradisi ini diharapkan terus lestari dan menjadi pengingat akan pentingnya rasa syukur, kebersamaan, serta penghormatan terhadap sejarah dan leluhur.AR

Tinggalkan komentar

Sedang Tren