Trenggalek-Dalam upaya mendukung program ketahanan pangan Presiden RI Prabowo Subianto, Pemerintah Kabupaten Trenggalek bersama Kodim 0806 Trenggalek membentuk Posko Swasembada Pangan.Selasa(25/3)

Peresmian posko ini dilakukan oleh Wakil Bupati Trenggalek, Syah Mohamad Natanegara.
Posko yang berlokasi di Jalan Hasanudin, Kelurahan Surodakan, Trenggalek ini akan menjadi pusat koordinasi antara petani, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), dan pihak terkait lainnya.

Wakil Bupati Trenggalek, Mas Syah, menjelaskan bahwa Kodim 0806 akan berperan sebagai pendamping pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan swasembada pangan nasional. Ia juga menekankan pentingnya sektor pertanian sebagai tulang punggung pembangunan daerah.

“Kita harus mendukung swasembada pangan ini, meskipun tantangannya cukup besar, seperti keterbatasan lahan,” ujar Mas Syah.

Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Trenggalek, Imam Nurhadi, menambahkan bahwa posko akan menjadi pusat koordinasi untuk meningkatkan produksi pangan lokal.
Strategi tanam yang optimal, seperti pola tanam cepat “14 hari panen langsung tanam”
akan diterapkan. Imam juga menekankan pentingnya efisiensi biaya produksi agar petani tetap mendapatkan keuntungan.“Tantangan kita adalah keterbatasan lahan, sehingga perlu strategi tanam yang optimal. Pola tanam cepat, seperti ’14 hari panen langsung tanam’ harus diterapkan,” jelasnya.

Komandan Kodim 0806 Trenggalek, Letkol Czi Yudo Aji Susanto, menjelaskan bahwa posko juga akan berfungsi sebagai pusat informasi dan pengawasan, termasuk dalam pemanfaatan bantuan pompa air bagi petani. Ia menekankan pentingnya kolaborasi tanpa ego sektoral untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional.“Posko ini juga akan memantau penggunaan pompa air yang telah diberikan kepada petani, memastikan bahwa bantuan benar-benar dimanfaatkan,” jelasnya.

Program Swasembada Pangan di Trenggalek juga selaras dengan program prioritas Presiden Prabowo, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih.

Dalam mendukung program ini, Bulog siap menyerap gabah petani dengan harga Rp6.500 per kg. Perwakilan Bulog, David Donny Kurniawan, menjelaskan bahwa harga tersebut adalah harga bersih yang diterima petani. Bulog akan menjemput hasil panen petani, namun petani tetap memiliki kebebasan untuk menjual gabah ke pembeli lain dengan harga lebih tinggi.

“Bulog bertugas menyerap gabah, tapi bukan berarti semua gabah petani harus dibeli oleh kami. Jika ada yang berani membeli dengan harga lebih tinggi, silakan,” tutupnya.

Dengan adanya sinergi antara pemerintah daerah, TNI, dan petani, diharapkan program Swasembada Pangan di Trenggalek dapat berjalan optimal demi mendukung ketahanan pangan nasional.AR

Tinggalkan komentar

Sedang Tren