TRENGGALEK – Masyarakat nelayan di Kabupaten Trenggalek saat ini tengah menghadapi tantangan akibat belum memasuki musim ikan. Kondisi ini menuntut para nelayan untuk lebih kreatif dalam mencari alternatif pendapatan dan bijak dalam mengelola keuangan.senin(10/3)
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Trenggalek Cusi Kurniawati, M.Si , dalam keterangannya, menekankan pentingnya bagi para nelayan untuk memacu kreativitas dan meminimalisasi pengeluaran di masa sulit ini.
“Kami memahami bahwa kondisi ini tidak mudah bagi para nelayan. Namun, kami berharap mereka dapat memanfaatkan waktu ini untuk mencari peluang lain yang dapat menghasilkan pendapatan tambahan,” ujarnya.
Ada beberapa penghasilan tambahan bagi nelayan Watulimo di luar musim ikan
Pengolahan Hasil Laut:
Nelayan dapat mengolah hasil tangkapan menjadi produk bernilai tambah seperti abon ikan, kerupuk ikan, atau ikan asin. Produk-produk ini memiliki umur simpan lebih lama dan dapat dijual di pasar lokal maupun lebih luas.
Pemanfaatan rumput laut. Watulimo memiliki potensi rumput laut yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam olahan seperti kerupuk rumput laut, atau bahan dasar kosmetik.
Budidaya Perikanan:
Budidaya ikan air tawar atau air payau seperti lele, nila, atau udang dapat menjadi alternatif penghasilan yang stabil.
Pariwisata:
Dengan keindahan pantai Watulimo, nelayan dapat menawarkan jasa wisata seperti penyewaan perahu untuk wisata bahari, memancing wisata, atau menjadi pemandu wisata lokal.
Pengembangan wisata kuliner hasil laut juga dapat menarik wisatawan dan meningkatkan pendapatan nelayan.
Pekerjaan Musiman:
Ketika musim ikan sedang sepi, nelayan dapat mencari pekerjaan musiman di sektor lain seperti pertanian,pembuatan reyeng ikan,pengumpulan daun cengkeh,konstruksi, atau pariwisata.
Lebih lanjut, Dinas Perikanan Kabupaten Trenggalek berencana untuk menggandeng konsultan ekonomi. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk memberikan pendampingan kepada para nelayan dalam mengelola keuangan mereka dengan lebih baik.
“Kami ingin para nelayan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang manajemen keuangan, sehingga mereka dapat lebih siap menghadapi masa-masa sulit seperti ini,” jelasnya.
Kecamatan Watulimo, sebagai salah satu sentra perikanan di Kabupaten Trenggalek, menjadi fokus utama dalam program pendampingan ini. Diharapkan, dengan adanya pendampingan dari konsultan ekonomi, para nelayan di Watulimo dapat memiliki strategi keuangan yang lebih matang.
Terkait dengan upah nelayan, Dinas Perikanan Kabupaten Trenggalek menegaskan bahwa pihaknya tidak mengatur mekanisme pengupahan. Hal ini diserahkan sepenuhnya kepada kesepakatan antara pemilik kapal dan anak buah kapal (ABK). “Kami menghormati kesepakatan yang telah dibuat antara pemilik kapal dan ABK. Hal ini merupakan ranah privat yang kami yakini telah diatur dengan baik oleh kedua belah pihak,” ungkapnya.
Pemerintah Kabupaten Trenggalek terus berupaya untuk memberikan dukungan kepada masyarakat nelayan dalam menghadapi tantangan ini. Diharapkan, dengan adanya upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat, para nelayan dapat melalui masa sulit ini dengan baik.AR





Tinggalkan komentar