Kediri, RJTVS.com – Warga Kediri mungkin sudah tak asing dengan cerita perjalanan Karnoto, lansia penjual roti bolang baling yang biasa berkeliling menggunakan gerobak. Setiap hari tanpa kenal lelah dia mendorong gerobaknya itu dari Wates hingga Kota Kediri.

Cerita itu rupanya juga terdengar sampai ke telinga bupati. Kemarin, dia diundang ke kantor Pemerintahan Kabupaten Kediri untuk bertemu Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana.

Di ruang kerjanya, Mas Dhito mengaku pertama kali mengetahui Karnoto dari media sosial. Setelah berbincang dengan Karnoto baru diketahui bahwa pedagang roti keliling ini memiliki keterbatasan dalam penglihatan karena katarak.

Setiap hari, kecuali saat hujan Karnoto tak pernah absen berjualan. Karena keterbatasan yang dimiliki untuk melihat jarak jauh, becak yang dimodif menjadi gerobak pun terus didorong hingga alun-alun Kota Kediri. Dari rumahnya di Dusun Turi, Desa Janti Kecamatan Wates dia berangkat pagi, sekitar pukul 08.00 dan tiba di rumah sekitar pukul 22.00 WIB.

“Umpami jawah mboten sadean, kademen kulo, sikil rasane ngetok-ngetok, rematik (kalau hujan tidak jualan, kedinginan saya, kaki rasanya sakit, rematik,” kata Karnoto kepada Bupati Kediri seperti dalam rilis yang diterima redaksi, pada Kamis (11/1/2024).

Dari jualan keliling, Karnoto bisa mendapatkan uang Rp200 ribu. Uang itu, ketika dikurangi setoran ke juragan roti hasil bersih yang diterimanya hanya Rp44 ribu. Karnoto pun mengaku sangat bersyukur dengan hasil ini.

Di rumahnya, bapak tiga orang anak ini tinggal bersama istri, seorang anak perempuan beserta suami dan seorang cucu. Selain Karyoto yang bekerja berjualan roti keliling, menantunya bekerja di pabrik saos.

Dalam perteman itu Mas Dhito menawarkan agar Karnoto mau operasi katarak. Untuk menjalani operasi, bupati siap mengantarkan sendiri. Namun, tawaran itu ditolak karena Karnoto mengaku takut ketika harus operasi.

“Kalau nggak mau operasi nggak apa-apa. Tapi saya mau bantu bapak. Kalau mau jualan monggo, mau jualan apa silahkan, tempatnya akan kami carikan,” jawab Mas Dhito.

Mas Dhito menyatakan, kalaupun Karnoto nantinya mau membuka toko kelontong atau jualan di pasar, pemerintah Kabupaten Kediri akan membantu.

“Saya sebagai pelayannya masyarakat punya kewajiban untuk membantu bapak. Kita mau bantu bapak. Kalau bapak belum punya gambaran kita yang akan bimbing,” terang Mas Dhito lagi.

Mas Dhito mengapresiasi semangat Karnoto yang tetap bertekad untuk tetap berjualan. Dia berharap, Karnoto nantinya tidak harus sampai berjualan keliling mendorong gerobak dari Wates sampai alun-alun Kediri. Terlebih dengan kondisinya yang sudah tua.

Setelah mengobrol jauh, Karnoto mengaku bersama istrinya bisa membuat roti sendiri. Dari pengakuan itu, Mas Dhito menyatakan siap membantu baik dari modal usaha maupun membantu mencarikan tempat berjualan.

Mas Dhito meminta Dinas Sosial berkoordinasi dengan Camat Wates maupun dinas lain untuk mendampingi. Termasuk  memberikan pelatihan kepada Karnoto dan keluarga hingga dagangannya layak dan usahanya berjalan.

“Nanti kita dampingi sampai beliau bisa jalan entah anaknya atau istrinya nanti bantu yang penting bukan beliau sendiri. Nanti keluarganya dilibatkan,” tandasnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Sosial Ariyanto menyampaikan Karnoto merupakan warga yang telah terdaftar menerima bantuan sosial tunai (BST) melalui pos, bantuan beras serta bantuan jaminan kesehatan.

Dari instruksi bupati, pihaknya akan berkoordinasi dengan Camat Wates, pemerintah desa termasuk dinas lain untuk melakukan pendampingan termasuk membantu mencarikan tempat usaha.

“Kita nanti lakukan assesment juga dengan keluarganya terkait langkah-langkah yang akan kita lakukan, kemudian bantuan yang dibutuhkan supaya pak Karnoto dan keluarga juga bisa bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya. (AB)

Tinggalkan komentar

Sedang Tren