RJTV, Semarang – BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) bekerjasama dengan Merintis Indonesia menyelenggarakan Diskusi Terbuka bertema “Pemilu 2024: Negara Demokrasi di Lingkaran Politik Dinasti” di Kampus Undip, Kota Semarang, Kamis (7/12).
Diskusi tersebut, diselenggarakan atas kerjasama dengan Merintis Indonesia, sebuah platform yang memfasilitasi diskusi anak-anak muda di kampus hingga ke kampung-kampung.
Dalam memantik diskusi, Dosen Undip yang juga menjabat sebagai Kepala Kantor Urusan Internasional Undip, Satria Aji Imawan menyampaikan demokrasi di Indonesia saat ini sudah “lampu kuning”.
“Namun demikian, Indonesia belum akan sampai pada “kejatuhan politik” karena kondisi perekonomian yang masih baik”, ungkap pria yang akrab disapa Aji ini.
Terkait isu politik dinasti, Aji menilai fenomena tersebut seharusnya tidak mewarnai sistem politik di Indonesia.
“Politik dinasti seharusnya sangat tidak wajar terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, kesadaran dari mahasiswa perlu ditumbuhkan sebagai bagian dari kontrol untuk mencegahdampak negatif politik dinasti,” tambahnya.
Aji pun meminta agar mahasiswa dapat selalu kritis dan peduli dengan berbagai fenomena sosial politik dewasa ini.
“Saya berpesan agar kawan-kawan mahasiswa dapat memainkan peran sebagai agent of change dengan cara-cara yang elegan,” imbuhnya.
Narasumber lainnya, Satria Naufal Putra Ansar, berpendapat senada. Menurut pria yang juga menjabat sebagai Presma BEM Universitas Brawijaya (UB) ini, dinasti politik merupakan fenomena yang sangat tidak wajar.
“Dinasti politik sangat tidak wajar, apalagi jika salah satu peserta kontestasi mendapat suntikan aksesibilitas yang lebih dari penguasa. Dengan demikian, dinasti politik harus ditolak karena mewajarkan ketidakwajaran,” ujar Satria.
Ditambahkannya, fenomena dinasti politik di Indonesia saat ini dapat berdampak negatif terhadap kontestasi Pemilu 2024.
“Politik dinasti saat ini bukan hanya memberikan aksesibilitas, tapi sudah mengintervensi konstitusi ataupun aturan main. Tentu saja fenomena ini menjadi problematik,” ungkap Satria.
Dengan demikian, Satria menyimpulkan bahwa kepemimpinan yang ideal bagi anak muda bukan hanya disimbolkan dengan umur, tetapi juga pada rekam jejak dan kapabilitas.
“Kepemimpinan yang ideal bagi anak muda adalah pemimpin yang mau turun tangan, yang mau hadir di tengah masyarakat.Untuk itu, saya meminta kepada teman-teman mahasiswa harus skeptis dan kritis terhadap calon-calon pemimpin saat ini,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua BEM FISIP Undip, Yazid Suhada Jaelani berpendapat bahwa salah satu permasalahan besar politik Indonesia saat ini adalah konstitusi yang diacak-acak akibat politik dinasti.
“Politik dinasti memberikan dampak negatif terhadap kondisi demokrasi dan politik Indonesia. Apalagi politik dinasti tersebut diwarnai dengan upaya mengacak-acak konstitusi dan penyalahgunaan alat negara,” tambah Yazid.
Yazid juga menilai bahwa salah permasalahan yang dapat mengganggu kualitas demokrasi di Indonesia saat ini adalah banyaknya pemilih yang hanya melihat gimmick dibandingkan substansi.
“Padahal, pemimpin anak-anak muda bukan hanya dilihat dari usia, namun dari kapabilitas. Calon pemimpin berusia muda belum tentu bisa mewakili pemuda apabila tidak memilikikapabilitas,”
Untuk itu, Yazid mengajak kepada para “orang baik” untuk ikut terlibat aktif di dalam politik.
“Karena melalui politik kita bisa wujudkan kesejahteraan bagi masyarakat,” tutup Yazid. (HS)





Tinggalkan komentar